Sekolah yang Terbebani

Thursday, 10 October 2019 Sekolah yang Terbebani

Melihat sekolah sebagai sebuah instansi bergelar tempat belajar yang telah ditasbihkan sejak dahulu kala membuat paradigma masyarakat kini seperti enggan untuk mencabut gelar mulia itu darinya. Memang pada kenayataannya kesadaran kolektif masyarakat masih memandang bahwa sekolah sebagai pusat kegiatan mencari ilmu.

Akibat kerpecayaan yang telah dipahami oleh masyarakat itulah sekolah akhirnya mendapat ekspektasi juga yang berlebih. Masyarakat menaruh atensi khusus pada sekolah, terutama terhadap output yang dikeluarkannya, yaitu anak-anak mereka. Tak heran banyak tuntutan disemat dan dialamatkan khusus kepada sekolah.

Mulai dari tuntutan kompetensi keahlian, nilai mumpuni, dan terutama akhlak terpuji semuanya mesti dilakukan oleh sekolah guna mengakomodasi harapan besar masyarakat. Dampaknya akan berbahaya jika sekolah tidak mampu memenuhi keinginan yang diinginkan oleh masyarakat, malapetaka akan menghampiri pihak sekolah.

Malapetaka yang akan didapat sekolah karena tidak sesuai ekspektasi masyarakat tadi bisa berupa cap jelek, cap sekolah gagal, dan mungkin akan mendapat stigma negatif hingga sekolah tersebut tak lagi diminati. Lebih jauh, beban yang diampu oleh sekolah bukan hanya saja berasal dari masyarakat, namun juga dari pemerintah.

Harapan besar pemerintah dalam memajukan pendidikan bangsa membuat para pemangku kebijakan mengarahkan sorot pandang kepada sekolah. Mereka tampaknya percaya bahwa sekolah adalah sosok yang paling bisa diandalkan dalam mnegatasi problema pendidikan, baik itu berupa peningkatan kecerdasan, skill, maupun budi pekerti.

Oleh alasan itu maka tak segan-segan pemerintah membuat aturan ini itu demi pendidikan yang lebih baik, demi sekolah bisa mewujudkan tujuan luhur pendidikan. Dibuatnya aturan tentang mekanisme kurikulum, aturan guru, dana bantuan sekolah dan banyak lagi yang lainnya. Lagi-lagi itu semua demi pendidikan, terutama sekolah.

Namun dari itu semua mari kita sejenak duduk, menarik napas panjang lalu menghembuskannya perlahan seraya berpikir dan mempertanyakan, apakah tugas pendidikan yang dibebankan kepada sekolah itu akan berhasil? Dan apakah benar hal besar yang dibebankan kepada sekolah itu benar-benar yang dimaksud dengan hakikat pendidikan itu sendiri? Ataukah hanya urusan remeh temeh, tidak substansial, namun tetap disebut sebagai tugas besar untuk sekolah bagi peningkatan kualitas pendidikan, kualitas SDM bangsa?

Hal yang menjadi kenyataannya justru sekolah belum bisa menunaikan tujuan dari pendidikan, malah oleh beberapa pihak dianggap makin menjauhi hakikat pendidikan yang sejati. Lalu untuk apa dampak dari semua hal yang dibebankan kepada sekolah itu? Selain sekedar membuat kesusahpayahan sekolah, apa lagi dampaknya?

Persoalan utama yang perlu dipahami adalah dengan merubah pola pikir bahwa tugas pendidikan hanya tugas sekolah semata. Padahal sejatinya ihwal pendidikan baik keluarga maupun lingkungan masyarakat juga punya peran yang tak kalah penting. Membebankan semuanya pada sekolah, apalagi sampai mendewakan sekolah, bahkan menuntut berlebihan kepada sekolah, maka hanya keberlebihan yang merusak pula jadi imbalannya.

Sekolah yang memiliki banyak beban tidak baik bagi pendidikan, alih-alih memajukan pendidikan, kemunduran dan stagnasi malah yang terjadi. Beban berlebih yang diampu oleh sekolah membuat semua pihak yang terlibat di dalamnya pun ikut terbebani dan akhirnya membuat efektifitas sekolah justru terhambat. Lagi-lagi, sekolah bukan segalanya, jadi kurang elok rasanya jika terlalu berekspektasi lebih pada sekolah, apalagi sampai membebaninya, karena pendidikan tidak identik dengan sekolah.

Sumber : kompasiana.com

Komentar